Selasa, 23 Februari 2010

Cara memanfaatkan Internet yang baik dan benar

Internet sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari saya. Jika menyalakan komputer tanpa tersambung ke internet rasanya seperti makan garam tanpa sayur, eh... salah makan sayur tanpa garam hehehe...
hambar rasanya. Internet banyak memenuhi kebutuhan saya tentang informasi yang aktual dan terkini.
Manfaat yang saya dapatkan selama bersurfing ria diinternet diantaranya :
     1. Sebagai ajang pembelajaran. Diinternet saya cukup banyak mendapatkan ilmu baru yang tidak saya
         temukan dari perkuliahan semacam tutorial-tutorial baru yang banyak diposting oleh surfer-surfer  
         lainnya  untuk sekedar share pengetahuan.
     2.  Ajang Promosi Barang/karya pribadi. Melalui internet dapat mengakses situs-situs komunitas tertentu  
          untuk sekedar gabung dengan komunitas yang memiliki minat yang sama dan mulai promosiin apa yang
          kita miliki.
     3. Mendapatkan informasi yang up to date mendapatkan berita-berita terkini seputar apa saja yang kita  
          inginkan.
     4. Media komunikasi dan belanja online. Melalui internet kita dapat terhubung dengan banyak user dari
         seluruh belahan dunia. Melalui teknologi jaringan yang ada.
     5. Pusat hiburan multimedia. Melalui internet kita dapat melihat tampilan video, musik(Mp3), foto dari    
         segala penjuru yang dishare  juga diinternet.
Pakailah intenet dengan mengakses situ-situs yang memiliki sertifikasi bebas spyware,sparmware agar tidak merugikan anda dan merusak komputer anda.
Manfaatkan situs-situs tertentu untuk peng update an software-software yang sedang berjalan dalam komputer anda.

Fungsi Web dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebelumnya kita tau dulu Web itu apa sich?!!

Halaman-halaman web yang sedang kita lihat sekarang ini sebenarnya adalah sekumpulan file yang kita buka melalui internet menggunakan browser (misalnya Internet Explorer) di komputer kita. Mungkin kita pernah ’save as’ sebuah halaman web dan menyimpannya di komputer kita. Kemudian suatu saat kita membukanya kembali. Mengklik nama file tersebut dan tiba-tiba kita sudah bisa melihat isinya di browser, di mana di bagian address bar yang terpampang adalah alamat file di komputer kita, seperti C:\Document & Settings\… dst. Lalu bagaimana dengan halaman-halaman atau file-file yang kita buka melalui internet?
Pada dasarnya tidak jauh berbeda. Kalau kita membuka halaman website dari file yang kita simpan di komputer kita sendiri, maka alamatnya adalah C:\… karena file tersebut terletak di komputer kita dengan alamat C:\… atau di hard disk C:\… Tapi kalau di internet alamatnya adalah berupa nama domain, misalnya http://lucaespasaribu.blogspot.com. Artinya file-file kita berada di sebuah komputer yang memiliki alamat tersebut.
http://lucaespasaribu.blogspot.com adalah nama domain dan komputer tempat menyimpan file-file tersebut adalah hosting. Sementara website adalah sekumpulan file yang disimpan di sebuah hosting yang saling terhubung satu sama lain menggunakan link-link yang terdapat di dalamnya. Dan file-file tersebut dapat dibuka dari seluruh dunia menggunakan alamat domain.
Pada awalnya Web diciptakan untuk kepentingan pembelajaran semata contoh untuk share Mathematic, sosiology, biology, science dll.
Sebuah website dibuat didalam sebuah sistem komputer yang dikenal dengan  server web, juga disebut HTTP Server.

Ada banyak jenis sistem software yang dapat dipakai untuk meng-generate Dynamic Web System dan Situs Dynamic, beberapa diantaranya adalah ColdFusion (CFM), Active Server Pages (ASP), Java Server Pages (JSP) dan PHP, bahasa program yang mampu untuk meng-generate Dynamic Web System dan Situs Dinamis. Situs juga bisa termasuk didalamnya berisi informasi yang diambil dari satu atau lebih database atau bisa juga menggunakan teknologi berbasis XML, contohnya adalah RSS. Isi situs yang statis juga secara periodik di generate, atau, apabila ada keadaan dimana dia butuh untuk dikembalikan kepada keadaan semula, maka dia akan di generate, hal ini untuk menghindari kinerjanya supaya tetap terjaga.
Plugin tersedia untuk menambah banyaknya feature dan kemampuan dari web browser, dimana, plugin ini dipakai untuk membuka content yang biasanya berupa cuplikan dari gambar bergerak (active content) contohnya adalah Flash, Shockwave atau applets yang ditulis dalam bahasa JAVA. Dynamic HTML juga menyediakan untuk user supaya dia bisa secara interaktif dan realtime, meng-update di web page tersebut (catatan; halaman yang dirubah, tak perlu di load atau di reloaded agar perubahannya dapat dilihat), biasanya perubahan yang dilakukan mereka memakai DOM dan Javascript yang sudah tersedia pada semua Web Browser sekarang ini.
Seperti yang tertulis di atas, di luar sana ada beberapa perbedaan dalam penulisan dari terminologi website. Walaupun ¨Website¨ sudah secara umum dipakai, namun untuk Associated Press Stylebook, Reuters, Microsoft, Academia, dan kamus-kamus yang ada, penulisan yang mereka pakai adalah dengan menggunakan 2 kata, yaitu Web site. Hal ini karena ¨Web¨ bukanlah terminilogi umum, namun kependekan dari World Wide Web.

Tapi kini Web sudah banyak berkembang dan memiliki banyak fungsi.

Media Promosi :
Sebagai media promosi dapat dibedakan menjadi media promosi utama, misalnya website yang berfungsi sebagai search engine atau toko Online, atau sebagai penunjang promosi utama, namun website dapat berisi informasi yang lebih lengkap daripada media promosi offline seperti koran atau majalah

Media Pemasaran :
Pada toko online atau system afiliasi, website merupakan media pemasaran yang cukup baik, karena dibandingkan dengan toko sebagaimana di dunia nyata, untuk membangun toko online diperlukan modal yangr relatif lebih kecil, dan dapat beroperasi 24 jam walaupun pemilik website tersebut sedang istirahat atau sedang tidak ditempat, serta dapat diakses darimana saja.
Media Informasi :
Website portal dan radio atau tv online menyediakan informasi yang bersifat global karena dapat diakses dari mana saja selama dapat terhubung ke internet, sehingga dapat menjangkau lebih luas daripada media informasi konvensional seperti koran, majalah, radio atau televisi yang bersifat lokal.
Media Pendidikan :
Melalui Website kita dapat share pengetahuan dengan teman-teman jaringan dimana saja dengan membentuk komuniti-komuniti tertentu sebagai wadah tempat be
Media Komunikasi
Sekarang banyak terdapat website yang dibangun khusus untuk berkomunikasi seperti forum yang dapat memberikan fasilitas bagi para anggotanya untuk saling berbagi informasi atau membantu pemecahan masalah tertentu.
sumber : http://wikipedia.com/

Kejujuran Semakin Memudar Penjiplakan, Puncak Gunung Es

Kejujuran Semakin Memudar Penjiplakan, Puncak Gunung Es

Jumat, 19 Februari 2010 | 03:49 WIB

Jakarta, Kompas - Kegiatan jiplak-menjiplak karya ilmiah merupakan puncak gunung es ketidakjujuran dalam jagat pendidikan. Skripsi mahasiswa yang sebagian merupakan jiplakan dengan cara copy/cut and paste, serta contek-mencontek dalam ujian, sudah dianggap lumrah.

Dengan demikian, ketidakjujuran itu sudah merambah hampir ke semua jenjang pendidikan. ”Ketidakjujuran ini sudah holistik, mengakar, merambah keluarga, masyarakat, dunia pendidikan, dan pemerintahan. Ini cermin dekadensi moral,” ujar Dr William Chang, pakar etika sosial, alumnus Universitas Gregoriana dan Universitas Lateran (Roma), saat dihubungi Kompas, Kamis (18/2).

Pepatah mengatakan, Non scholae sed viate discimus (Seneca, Epist. 106.11), manusia belajar bukan untuk sekadar memperoleh nilai berupa angka-angka yang kadang bersifat relatif dan subyektif, tetapi manusia belajar untuk hidup. Yang utama adalah nilai-nilai untuk mendukung hidup manusia.

Dia menambahkan, plagiat adalah tindak kebohongan dan akan cepat diketahui. Maka, pendidikan formal perlu mengambil langkah edukatif bagi para plagiator. Komersialisasi di bidang karya ilmiah sudah semarak. Akhirnya, lahir sarjana-sarjana bertitel panjang, tetapi bobot ilmiahnya rendah. Plagiat termasuk tamparan tragis dunia pendidikan formal kita jika kasus ini dibiarkan.

Masyarakat sering bertanya, kapan pejabat itu kuliah dan membuat tesis, kok, mendadak bergelar doktor.

Sanksi

Menanggapi kasus penjiplakan, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal menegaskan perlunya pengetatan aturan dan penjatuhan sanksi lebih serius di perguruan tinggi hingga pemerintah. ”Penjatuhan sanksi tergantung tingkat kesalahan dan sudah dilakukan tiap perguruan tinggi. Kementerian hanya bisa menunda atau tidak memproses kenaikan pangkat atau permohonan guru besar,” ujarnya.

Fasli mengakui, kasus-kasus penjiplakan dengan mengutip jurnal luar negeri sudah berlangsung lama. Saat diketahui, Kementerian Pendidikan Nasional otomatis menolak permohonan pengangkatan guru besar atau kenaikan pangkat dosen.

Sementara itu, pendiri dan Direktur Eksekutif Yayasan Warisan Luhur Indonesia (Indonesia Heritage Foundation) Ratna Megawangi menyatakan, maraknya plagiat adalah bukti kegagalan sistem pendidikan dan pola asuh dalam keluarga, terutama karena belum adanya pendidikan karakter.

Pendidikan karakter sering disamakan dengan pendidikan moral yang dituangkan dalam pelajaran dan harus dihafal. ”Kita tahu bohong dan mencontek itu salah, tetapi dibiarkan. Pemahaman atas benar-salah tidak dipraktikkan dalam perbuatan,” tuturnya.

Batasan penjiplakan

Guna mencegah berkembangnya penjiplakan, Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri mengusulkan agar perguruan tinggi lebih gencar menyosialisasikan pengertian dan batasan penjiplakan.

”Selama ini banyak anggapan mencontek karya ilmiah sebagai hal lumrah. Maka, sosialisasi harus terus dilakukan karena tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama tentang penjiplakan,” papar Gumilar.

Untuk mencegahnya, mahasiswa dan dosen UI harus memublikasikan karya ilmiahnya di kalangan internal dan umum agar diketahui jika terjadi plagiat.

Cenderung ditutupi

Guru besar ilmu sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Bambang Purwanto, menambahkan, selama ini penjiplakan karya ilmiah cenderung ditutup-tutupi, berlangsung terus tanpa sanksi. Kondisi ini mendorong kian merebaknya penjiplakan dan akan menjadi budaya buruk pendidikan kita. Padahal, menjiplak karya ilmiah merupakan pelanggaran kode etik utama seorang ilmuwan.

”Selama ini, pengaduan atas penjiplakan karya ilmiah belum pernah ditanggapi. Ada banyak alasan, mulai dari ewuh-pakewuh, tenggang rasa antarkolega, sampai takut diancam,” kata Bambang menambahkan.

Selama beberapa tahun ini, Bambang menemukan dua karya ilmiahnya dijiplak dosen dari perguruan tinggi lain. Meski telah disertai bukti-bukti kuat, laporan kepada perguruan tinggi asal dosen yang menjiplak tidak pernah diproses dan ditanggapi.

Kata Bambang, ada banyak teknik dalam menjiplak dan mudah dilakukan dengan komputer.

”Seharusnya penjiplak dikenai sanksi tegas tanpa toleransi karena menyangkut mental dan moral bangsa. Apa jadinya bangsa ini jika para calon pemimpin bangsa ini dididik oleh pencuri?” ujar Bambang.

Terkait dugaan penjiplakan karya ilmiah dua calon guru besar perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah V DI Yogyakarta Budi Santosa Wignyosukarto mengatakan, berkas pengajuan guru besar dikembalikan ke perguruan tinggi masing-masing untuk klarifikasi.

Hasil analisis terakhir, karya dosen IPA dicurigai menjiplak skripsi mahasiswa S-1 sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Kemiripan terlihat mulai dari tabel data, analisis, hingga gambar grafik. Analisis setebal 12 halaman itu dikirim reviewer yang kebetulan menjadi pembimbing skripsi mahasiswa yang karyanya dijiplak.

Untuk antisipasi, Budi berharap perguruan tinggi meningkatkan kontrol sosial antardosen. ”Akibat perbuatan satu dosen, seluruh PTS itu akan malu.”

Gagal

Maraknya penjiplakan karya ilmiah merupakan cermin kegagalan sistem pendidikan nasional. Kini, pendidikan lebih berorientasi pada produk, kurang menghargai proses, dan rasa malu pada kode etik kian terkikis. ”Demi tunjangan profesi, gelar kehormatan di lingkungan pendidikan diraih dengan cara curang,” tutur Wuryadi, Ketua Dewan Pendidikan DI Yogyakarta.

Sejak tunjangan profesi dosen dan guru besar ditetapkan, pengajuan gelar guru besar memang meningkat. Dalam setahun, ada delapan pengajuan guru besar di Kopertis V DI Yogyakarta. Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan dengan sebelum tunjangan profesi dosen dan guru besar diberlakukan.

Sementara itu, Prof Dr Moh Mahfud MD, guru besar hukum tata negara Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, menilai penjiplakan berpotensi melakukan korupsi.

”Penjiplak karya orang lain berpotensi melakukan korupsi. Diri sendiri saja dibohongi, apalagi orang lain. Orang-orang seperti ini berbahaya jika kelak menjadi pemimpin,” kata Mahfud. (WHY/IRE/LUK/TON)


Tanggapan Mengenai Artikel diatas :
Menjiplak adalah tindakan pembodohan yang membiarkan diri tinggal dalam kemalasan yang berangsur-angsur semakin tebal.
Menjiplak(Plagiat) juga termasuk salah satu tindakan mencuri yang sangat tidak bermoral sudah sepantasnya tiap-tiap orang mengembangkan dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan karya orang lain tersebut. Kebanyakan orang malas melakukan untuk berusahan sendiri/mencari sendiri dulu dengan menggunakan otaknya dan cenderung sama dengan karya orang lain. Tidak mau mengeluarkan keringat namun ingin mendapatkan hasil/nilai.Menurut saya plagiat dapat dikurangi jika kita mau untuk berusaha sendiri membuat karya kita dengan melihat referensi dari karya orang lain tanpa harus menjiplaknya. Berani Beda itu jauh lebih baik...

Dua juta diploma menganggur

sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/19/03191054/.dua.juta.diploma.dan.sarjana..menganggur

Dua Juta Diploma dan Sarjana Menganggur
Keterampilan Nonakademis Faktor Penentu

Jumat, 19 Februari 2010 | 03:19 WIB

Jakarta, kompas - Sedikitnya dua juta lulusan perguruan tinggi, baik lulusan program diploma maupun sarjana, menganggur. Hal itu, antara lain, terjadi karena sebagian besar lulusan perguruan tinggi tidak memiliki keterampilan nonakademis.

Padahal, dunia kerja atau industri justru menjadikan keterampilan nonakademis itu sebagai salah satu faktor penentu dalam penerimaan karyawan atau tenaga kerja.

Demikian benang merah yang mengemuka dalam diskusi ”Siap Hadapi Tantangan Dunia Kerja dengan Pendidikan Berfokus Karier”, Kamis (18/2) di Jakarta. Berbicara pada diskusi tersebut konsultan pengembangan sumber daya manusia dari Daya Dimensi Indonesia, Aditia Sudarto, dan CEO International College School of Informatics (Inti) Indonesia Sudino Lim.

”Nilai indeks prestasi kumulatif boleh saja tinggi. Tetapi, tanpa soft skill itu tidak akan ada artinya. Barangkali, paradigma pendidikan kita yang harus diubah sehingga perguruan tinggi bisa ikut memacu soft skill ini dan mengakomodasi kebutuhan dunia kerja,” kata Aditia.

Keterampilan atau keahlian nonakademis yang dimaksud itu, antara lain, adalah keterampilan presentasi, manajemen konflik, berbicara di depan publik, dan kerja sama dalam satu tim. Tanpa keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja ini, kualitas lulusan perguruan tinggi pun tidak maksimal berkembang. Akibatnya, 4,1 juta atau sekitar 22,2 persen dari 21,2 juta angkatan kerja terpaksa menganggur (hasil survei tenaga kerja nasional 2009 dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional).

”Banyak perusahaan yang setiap tahun mencari karyawan baru yang memiliki motivasi yang kuat dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang dunia kerja. Sayangnya, faktor-faktor ini yang sering menjadi kendala bagi para lulusan perguruan tinggi,” kata Aditia.

Selain karena tidak memiliki keterampilan, sejak awal langkah untuk memasuki dunia perguruan tinggi juga sudah keliru. Berdasarkan hasil riset Inti Indonesia, menurut Sudino Lim, banyak calon mahasiswa yang cenderung memilih program studi hanya berdasarkan tren yang ada. Jika tidak karena tren, faktor pemilihan perguruan tinggi lebih karena atas permintaan orangtua atau keluarga dan pengaruh teman sebaya. ”Ini yang menjadi awal penyebab ketidaksiapan mereka untuk menghadapi tantangan dan tuntutan dunia kerja,” kata Sudino. (LUK)

Komentar Saya mengenai pernyataan tersebut :
Memang  benar adanya, dijaman yang serba susah seperti saat ini persaingan memang semakin sulit untuk mendapatkan satu pekerjaan dimana setiap orang harus memiliki kemampuan tambahan untuk dapat mendapatkan pekerjaan. Kemampuan tambahan tersebut adalah kemampuan yang tidak didapat dalam ilmu pengetahuan teoritis di perkuliahan. Seperti kemampuan berbicara, kemampuan bekerja sama dan lain-lain merupakan bagian dari kemampuan berkomunikasi seseorang. Itu sangat berperan dalam memajukan suatu perusahaan.Sehingga bagi orang-orang yang terbiasa sedikit berbicara dan tidak suka bekerja sama akan menimbulkan kesulitan tersendiri bagi dia maupun tim di dalam melakukan  suatu pekerjan yang membutuhkan kekompakan tim.
Memang sangat diharapkan kepada setiap Universitas di Indonesia untuk menerapkan program softskill tersebut untuk melatih kemampuan mahasiswanya dalam menghadapi suasana persaingan dalam pekerjaan.
Untuk mendapatkan kemampuan/bakat yang terbaik memang seharusnya dilakukan dengan memilih jurusan yang sesuai dengan kemampuan individu dan minat dari calon mahasiswa tersebut.
Kesalahan memilih jurusan hanya akan menyebabkan hasil yang kurang maksimal ketika lulus dari perkuliahan. Lulusan Perguruan Tinggi cenderung memilih pekerjaan yang cenderung sesuai dengan minat dan bakatnya ketimbang pengetahuan yang didapat semasa perkuliahan. Meskipun banyak juga yang memilih pekerjaan sesuai dengan ilmu yang didalaminya semasa perkuliahan.
 

Speed Test